Minggu, 22 Juni 2014

makalah bio monokuler dibidang pertanian


                                                                                                                             I.          PENDAHULUAN
Biomokuler atau sering disebut juga biologi molekuler adalah sebuah ilmu dari kesehatan yang dimana dikembangkan untuk mengetahui berbagai jenis penyakit. Selain seperti pengertian diatas biomolekuler dimanfaatkan untuk berbagai keperluan misalnya dalam pembuatan antibodi monoklonal, pembuatan vaksin, terapi gen dan pembuatan antibiotik. Proses penambahann DNA asing pada bakteri merupaka prospek untuk memproduksi hormon atau obat-obatan di dunia kedokteran. contohnya pada produksi hormon insulin, hormon pertumbuhan dan zat antivirus yang disebut interferon. Orang yang menderita diabetes melitus membutuhkan suplai insulin dari luar tubuh. Dengan menggunakan teknik DNA rekombinan, insulin dapat dipanen dari bakteri.
Dengan adanya perkembangan zaman yang semakin maju dan modern biomolekuler dimanfaatkan atau diterapkan dalam bidang pertanian salah satunya sebagai perbaikan sifat tanaman dapat dilakukan dengan teknik modifikasi genetik dengan melalui rekayasa genetika untuk memperoleh varietas unggul, produksi tinggi, tahan hama, patogen, dan herbisida. Perkembangan Biologi Molekuler memberikan sumbangan yang besar terhadap kemajuan ilmu pemuliaan ilmu tanaman (plant breeding). Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa perbaikan genetis melalu pemuliaan tanaman konvemsional telah memberikan kontribusi yng sangat besar dalam penyediaan pangan dunia.
Dalam bidang pertanian telah dapat dibentuk tanaman dengan memanfaatkan mikroorganisme dalam fiksasi nitogen yang dapat membuat pupuknya sendiri sehingga dapat menguntungkan pada petani. Demikian pula terciptanya tanaman yang tahan terhadap tanah gersang. Mikroba yang di rekayasa secara genetik dapat meningkatkan hasil panen pertanian, demikian juga dalam cara lain, seperti meningkatkan kapasitas mengikat nitrogen dari bacteri Rhizobium. Keturunan bacteri yang telah disempurnakan atau diperbaiki dapat meningkatkan hasil panen kacang kedelai sampai 50%.
Rekayasa genetik lain sedang mencoba mengembangkan turunan dari bacteri Azotobacter yang melekat pada akar tumbuh bukan tumbuhan kacang-kacangan (seperti jagung) dan mengembangbiakan, membebaskan tumbuhan jagung dari ketergantungan pada kebutuhan pupuk amonia (pupuk buatan).  Hama tanaman merupakan salah satu kendala besar dalam budidaya tanaman pertanian. Untuk mengatasinya, selama ini digunakan pestisida. Namun ternyata pestisida banyak menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain matinya organigme nontarget, keracunan bagi hewan dan manusia, serta pencemaran lingkungan.
Oleh karena itu, perlu dicari terobosan untuk mengatasi masalah, tersebut dengan cara yang lebih aman. Kita mengetahui bahwa mikroorganisme yang terdapat di alam sangat banyak, dan setiap jenis mikroorganisme tersebut memiliki sifat yang berbeda-beda. Dari sekian banyak jenis mikroorganisme, ada suatu kelompok yang bersifat patogenik (dapat menyebabkan penyakit) pada hama tertentu, namun tidak menimbulkan penyakit bagi makhluk hidup lain. Contoh mikroorganisme tersebut adalah bakteri Bacillus thuringiensis.



     II.          TINJAUAN PUSTAKA
Biomolekul/ biomolukuler terdapat didalam zat hidup yang berbeda dari senyawa kimia yang ada disekelilingnya (O2, CO2, N2, gram organik, ion-ion logam dll). Karena berat molekul yang lebih besar dan setrukturnya lebih kompleks, unsur-unsur pembentuknya tidak berbeda. Karbohidrat, lipid, asam nukleat dan protein merupakan biomolekul yang termasuk komponen utama dalam sel hidup. Dan biomolekul ini merupakan molekul besar yang dibentuk oleh satuan-satuan pembentuknya. Monosakarida merupakan satuan pembentuk karbohidarat atau polisakarida dan asam lemak merupakan pembentuk lipid. Selain itu ada juga seperti berikut :
 Protein yang merupakan suatu molekul yang terdiri atas  1 atau lebih polimer yang linier dan tidak berabang. Monomer yang membuat polimer disebut asam amino. Protein ini juga bertanggung jawab atas pergerakan semua organisme. Protein juga dapat merubah struktur sekunder, tersier, dan kuartener.
Karbohidrat merupakan senyawa yang terbentuk dari molekul karbon, hidrogen, dan oksigen. Sebagai salah satu jenis zat gizi, dan berperan sebagai penghasil energidalam tubuh. Karbohidrat juga dapat banyak ditemukan  dialam. Adpun karbohidrat terbagi menjadi 2 yang sering ditemui yaitu pati dan seilosa yang sering disebut dengan makromolekul. Kedua karbohidarat ini terbentuk dari masing-masing unit tertentu yang secara berulang-ulang seperti rantai yang terdiri atas mata-mata rantai. Mata rantai dari seilosa sama dengan pati yaitu merupakan salah satu unit dari gula yang disebut glukosa. Jadi molekul glukosa adalah sebuah monumer yang dapat disusun menjadi polimer.
Lipid bukan merupakan suatu polimer. Merupakan suatu molekul yang dikategorikan sebagai lipid karena : merupakan larutan rendah didalam air, larut dalam pelarut organik (eter klorofom), terdiri dari C, H, O. Berdasarkan strukturnya, lipid dibagi menjadi dua yaitu lipid dengan rantai hidrokarbon terbuka, yaitu asam lemak, TAG, Spingolipid, Fosfoasilgliserol dan gliklolipid. Dan lipid dengan hidrokarbon siklis yaitu stroid (kolesterol).
Asm lemak memiliki setruktur umum yaitu kepala(hidrofobik), ekor(hidrofilik) sehingga asam lemak mempunyai sifat amfiatik. Sehingga biomolekul dalam sel berfungsi sebagai enzim, yang mampu mengatalisis berbagai proses reaksi biokimia, sebagai alat transport bahan makanan, sebagai bentuk racun sebagai antibodi, sebagai hormone, dan pembentuk membran sel.
Asam nukleat sebagai faktor genetik (DNA), sebagai senyawa koenzim, sebagai molekul pembawa (penyimpan) energi, sebagai senyawa yang berperan dalam proses biosintesis protein.
Plosakarida yang berfungsi sebagai sumber energi, sebagai sumber cadangan energi yang dalam bentuk molekul glikogen, dan sebagai komponen dalam stuktur membran sel dan dinding sel.  Sehingga lipid dapat berfungsi pembentuk membran sel sebagai hormone dan sebagi sumber energi.
Jadi, dari hasil pemaparan diatas maka para ahli genetika mengembangkan biomolekuler ini sebagai ilmu yang dapat bermanfaat dalam pertanian bukan hanya dalam ilmu kedokteran. Pengambilan sempel hingga mengkombinasikannya hingga menjadi sebuah hasil yang sangat memuaskan. Salah satunya contoh didapatkanya varietas tanaman dari persilangan genotip F1 dengan F2 dimana tidak meninggalkan sifat induk yang F1 dan memperoleh hasil yang lebih dari tanaman induknya, selain itu juga dapat dimanfaatkan sebagi pestisida yang dapat mencegah penyakit pada tanaman serta membunuh hama yang mengganggu. Berikut adalah gambar penggabungan semua senyawa sehingga disebut biomekuler dengan sistem DNA:

Gambar  1. Senyawa-senyawa pembangun biomolekuler
 

Dengan berhasilnya rekayas genetika melalui metode kloning DNA, memungkinkan gen tunggal dari suatu spesies mahluk hidup dimasukkan ke dalam gen dari spesies mahluk hidup lainnya. Teknologi memanipulasi DNA yang dikerjakan dengan pencangkokan ( kloning ) tanpa melalui perkawinan disebut moleculair cloning atau recombinant DNA technology. Rekayasa genetika dalam bidang tanaman dilakukan dengan mentransfer gen asing ke dalam tanaman. Hasil rekayasa genetika pada tanaman seperti ini disebut tanaman transgenik. Sudah diperoleh beberapa tanaman trangenik yang toleran terhadap salinitas, kekeringan dan hama penyakit.
       III.          PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bacillus thuringiensis mampu menghasilkan suatu protein yang bersifat toksik bagi serangga, terutama seranggga dari ordo Lepidoptera. Protein ini bersifat mudah larut dan aktif menjadi menjadi toksik, terutama setelah masuk ke dalam saluran pencemaan serangga. Bacillus thuringiensis mudah dikembangbiakkan, dan dapat dimafaatkan sebagai biopestisida pembasmi hama tanaman. Pemakaian biopestisida ini diharapkan dapat mengurangi dampak negatif yang timbul dari pemakaian pestisida kimia. Dengan berkembangnya biomolekuler, sekarang dapat diperoleh cara yang lebih efektif lagi untuk membasmi hama. Pada saat ini sudah dikembangkan tanaman transgenik yang resisten terhadap hama. Tanaman transgenik diperoleh dengan cara rekayasa genetika. Gen yang mengkode pembentukan protein toksin yang dimiliki oleh B.
Thuringiensis dapat diperbanyak dan disisipkan ke dalam sel beberapa tanaman budidaya. Dengan cara ini, diharapkan tanaman tersebut mampu menghasilkan protein yang bersifat toksis terhadap serangga sehingga pestisida tidak diperlukan lagi. Dan dapat sebagai teknik-teknik biologi molekuler, contohnya pada OPT dapat diidentifikasi dan dideteksi secara lebih akurat untuk kepentingan diagnosis yang tepat dan cepat. "Teknik-teknik biologi molekuler ini sangat membantu dalam memahami perkembangan infeksi suatu penyakit dalam tanaman inangnya maupun pengaruh faktor lingkungan terhadap kejadian, keparahan serangan dan penyebaran suatu OPT,"
Bioteknologi modern di bidang pertanian. Karena sudah banyak dilakukan sebagai teknologi baru yang menggunakan teknik-teknik biologi molekuler dan rekayasa genetika, ia mampu untuk mengelola kesehatan tanaman, mengoptimalkan hasil produksi, dan mengurangi penggunaan pestisida.
Dan selain itu usaha yang dilakukan unutk menanggulangi krisis pangan di Indonesia dengan pendekatan biologi molekuler, antara lain dengan merakit tanaman yang reastin terhadap serangan hama dan penyakit, serta toleran terhadp cekaman lingkungan ( salin, kekeringan dan keracunan Al ).

                                                                     IV.          KESIMPULAN
 Jadi dengan semua ini dapat disimpulkan bahwa dengan memanfaatkan tanaman transgenik secara selektif kita dapat memanfaatkan semua lahan marginal menjadi produktif, sehingga kurangnya sumber daya lahan tidak menjadi kendala. Dan asumsi potensi lahan yang masih sangat luas tentu dapat menjamin kontinuitas produksi dari tanaman pangan jangka panjang.
Pendekatan biologi molekul cukup menjanjikan penyelesaian yang tuntas dan tepat sasaran dalam menghadapi masalah pangan di Indonesia. Oleh karena itu kiranya tidak berlebihan apabila usaha awal untuk merakit tanaman transgenik di negara kita ini perlu dilakukan supaya resiko yang bakal berdampak negatif pada manusia ataupun lingkungan dapat dikurangi. Kearifan dan tanggung jawab moral yang sangat tinggi merupakan salah satu modal utama dalam menekuni bidang rekayasa genetika ini. Perlu ditingkatkan juga kemampuan sumber daya manusia di Indonesia dalam hal rekayasa genetika, agar ketergantungan akan bibit tanaman transgenik tidak terjadi

                                                                  DAFTAR PUSTAKA
http:// illnessesanimalsplant. Wikipedia. Com /file/view//membrane3 jpg.
              Diakses pada tanggal 02 januari 2013.
Kimball. 1993. Biologi jilid 1. Erlangga. Jakarta
              Penerbit ITB. Bandung
Watson, J.D., T.A. Baker, S.P. Bell, A. Gann, M. Levine, R. Losick. 2008.  Molecular Biology of The Gene.  Pearson Education, Inc, San Francisco.
Wirahadiskusumah. 2001. Biokimia protein, enzim dan asam nukleat.












TUGAS MAKALAH
BIOLOGI UMUM
BIOMOKULER DI BIDANG PERTANIAN




Kelompok :
Teguh Alifianto Saputra
CAA 109 034
Robby Morentino
CAA 102 066



JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2013




DAFTAR ISI
I.              PENDAHULUAN ............................................................................... 1
II.           TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 3
Gambar 1. Senyawa-senyawa penyususun biomolekuler................. 5
III.        PEMBAHASAN .................................................................................. 6
IV.        KESIMPULAN .................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................... 9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar